Posted by: arniz | August 18, 2009

Career Info

image

 

sumber: http://mybothsides.com

Posted by: arniz | August 8, 2009

Elang Gumilang – mahasiswa beromzet milyaran

Profil elang muncul di majalah Pengusaha yang berjudul “Kepak Elang Memburu Intan”. Statusnya yang masih mahasiswa berusia 22 tahun, dan sudah memiliki perusahaan beromzet miliaran rupiah.

*Elang Gumilang, Mahasiswa Bangun Perumahan untuk Orang Miskin Demi Keseimbangan Hidup*

Selama ini banyak developer yang membangun perumahan namun hanya bisa  dijangkau oleh kalangan menengah ke atas saja. Jarang sekali developer yang membangun perumahan yang memang dikhususkan bagi orang-orang kecil. Elang Gumilang (22), seorang mahasiswa yang memiliki jiwa wirausaha tinggi ternyata memiliki kepedulian tinggi terhadap kaum kecil yang tidak memiliki rumah. Meski bermodal pas-pasan, ia berani membangun perumahan khusus untuk orang miskin. Apa yang mendasarinya?

Jumat sore (28/12), suasana Institut Pertanian bogor (IPB), terlihat lengang. Tidak ada geliat aktivitas proses belajar mengajar. Maklum hari itu, hari tenang mahasiswa untuk ujian akhir semester (UAS). Saat Realita melangkahkah kaki ke gedung Rektorat, terlihat sosok pemuda berperawakan kecil dari kejauhan langsung menyambut kedatangan Realita. Dialah Elang Gumilang (22), seorang wirausaha muda yang peduli dengan kaum miskin. Sambil duduk di samping gedung Rektorat, pemuda yang kerap disapa Elang ini, langsung mengajak Realita ke perumahannya yang tak jauh dari kampus IPB. Untuk sampai ke perumahan tersebut hanya membutuhkan waktu 15 menit dengan menggunakan kendaraan roda empat. Kami berhenti saat melewati deretan rumah bercat kuning tipe 22/60. Rupanya bangunan yang berdiri di atas lahan 60 meter persegi itu adalah perumahan yang didirikannya yang diperuntukan khusus bagi orang-orang miskin. Setelah puas mengitari perumahan, Elang mengajak Realita untuk melanjutkan obrolan di kantornya.

Elang sendiri merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan H. Enceh (55) dan Hj. Prianti (45). Elang terlahir dari keluarga yang lumayan berada, yaitu ayahnya berprofesi sebagai kontraktor, sedangkan ibunya hanya ibu rumah tangga biasa. Sejak kecil orang tuanya sudah mengajarkan bahwa segala sesuatu diperoleh tidak dengan gratis. Orang tuanya juga meyakinkan bahwa rezeki itu bukan berasal dari mereka tapi dari Allah SWT..

Ketika duduk di bangku Sekolah Dasar Pengadilan 4, Bogor, Elang sudah mengikuti berbagai perlombaan dan bahkan ia pernah mengalahkan anak SMP saat lomba cerdas cermat. Karena kepintarannya itu, Elang pun menjadi anak kesayangan guru-gurunya.

Begitu pula ketika masuk SMP I Bogor, SMP terfavorit di kabupaten Bogor, Elang selalu mendapatkan rangking. Pria kelahiran Bogor, 6 April 1985 ini mengaku kesuksesan yang ia raih saat ini bukanlah sesuatu yang instan. “Butuh proses dan kesabaran untuk mendapatkan semua ini, tidak ada sesuatu yang bisa dicapai secara instan,” tegasnya. Jiwa wirausaha Elang sendiri mulai terasah saat ia duduk di bangku kelas 3 SMA I Bogor, Jawa Barat. Dalam hati, Elang bertekad setelah lulus SMA nanti ia harus bisa membiayai kuliahnya sendiri tanpa menggantungkan biaya kuliah dari orang tuanya. Ia
pun mempunyai target setelah lulus SMA harus mendapatkan uang Rp 10 juta untuk modal kuliahnya kelak.

Berjualan Donat. Akhirnya, tanpa sepengetahuan orang tuanya, Elang mulai berbisnis kecil-kecilan dengan cara berjualan donat keliling. Setiap hari ia mengambil 10 boks donat masing-masing berisi 12 buah dari pabrik donat untuk kemudian dijajakan ke Sekolah Dasar di Bogor. Ternyata lumayan juga. Dari hasil jualannya ini, setiap hari Elang bisa meraup keuntungan Rp 50 ribu. Setelah berjalan beberapa bulan, rupanya kegiatan sembunyi-sembunyiny a ini tercium juga oleh orang tuanya. “Karena sudah dekat UAN (Ujian Akhir Nasional), orang tua menyuruh saya untuk berhenti berjualan donat. Mereka khawatir kalau kegiatan saya ini mengganggu ujian akhir,” jelas pria pemenang lomba bahasa sunda tahun 2000 se-kabupaten Bogor ini.

Dilarang berjualan donat, Elang justru tertantang untuk mencari uang dengan cara lain yang tidak mengganggu sekolahnya. Pada tahun 2003 ketika Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB mengadakan lomba Java Economic Competion se-Jawa, Elang mengikutinya dan berhasil menjuarainya. Begitu pula saat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) menyelenggarakan kompetisi Ekonomi, Elang juga berhasil menjadi juara ke-tiga. Hadiah uang yang diperoleh dari setiap perlombaan, ia kumpulkan untuk kemudian digunakan sebagai modal kuliah.

Setelah lulus SMU, Elang melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi IPB (Institut Pertanian Bogor). Elang sendiri masuk IPB tanpa melalui tes SPMB (Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru, red) sebagaimana calon mahasiswa yang akan masuk ke Perguruan Tinggi Negeri. Ini dikarenakan Elang pernah menjuarai kompetisi ekonomi yang diadakan oleh IPB sehingga bisa masuk tanpa tes. Saat awal-awal masuk kuliah, Elang mendapat musibah yang menyebabkan uang Rp 10 jutanya tinggal Rp 1 juta. Namun Elang enggan memberitahu apa musibah yang dialaminya tersebut.

Padahal uang itu rencananya akan digunakan sebagai modal usaha. Meski hanya bermodal Rp 1 juta, Elang tidak patah semangat untuk memulai usaha. Uang Rp 1 juta itu ia belanjakan sepatu lalu ia jual di Asrama Mahasiswa IPB. Lewat usaha ini, dalam satu bulan Elang bisa mengantongi uang Rp 3 jutaan. Tapi setelah berjalan beberapa tahun, orang yang menyuplai sepatunya entah kenapa mulai menguranginya dengan cara menurunkan kualitas sepatunya. Satu per satu pelanggannya pun tidak mau lagi membeli sepatu Elang. Sejak itu, Elang memutuskan untuk tidak lagi berjualan sepatu.

Setelah tidak lagi berbisnis sepatu, Elang kebingungan mencari bisnis apalagi. Pada awalnya, dengan sisa modal uang bisnis sepatu, rencanaya ia akan gunakan untuk bisnis ayam potong. Tapi, ketika akan terjun ke bisnis ayam potong, Elang justru melihat peluang bisnis pengadaan lampu di kampusnya. “Peluang bisnis lampu ini berawal ketika saya melihat banyak lampu di IPB yang redup. Saya fikir ini adalah peluang bisnis yang menggiurkan,”paparnya. Karena tidak punya modal banyak, Elang menggunakan strategi Ario Winarsis, yaitu bisnis tanpa menggunakan modal. Ario Winarsis sendiri awalnya adalah seorang pemuda miskin dari Amerika Latin, Ario Winarsis mengetahui ada seorang pengusaha tembakau yang kaya raya di Amerika. Setiap hari, ketika pengusaha itu keluar rumah, Ario Winarsis selalu melambaikan tangan ke pengusaha itu. Pada awalnya pengusaha itu tidak memperdulikannya. Tapi karena Ario selalu melambaikan tangan setiap hari, pengusaha tembakau itu menemuinya dan mengatakan, “Hai pemuda, kenapa kamu selalu melambaikan tangan setiap saya ke luar rumah?” Pemuda miskin itu lalu menjawab, “Saya punya tembakau kualitas bagus. Bapak tidak usah membayar dulu, yang penting saya dapat PO dulu dari Bapak.” Setelah mendengar jawaban dari pemuda itu, pengusaha kaya itu lalu membuatkan tanda tangan dan stempel kepada pemuda tersebut. Dengan modal stempel dan tanda tangan dari pengusaha Amerika itu, pemuda tersebut pulang dan mengumpulkan hasil tembakau di kampungnya untuk di jual ke Amerika lewat si pengusaha kaya raya itu. Maka, jadilah pemuda itu orang kaya raya tanpa modal.

Begitupula Elang, dengan modal surat dari kampus, ia melobi ke perusahaan lampu Philips pusat untuk menyetok lampu di kampusnya. “Alhamdulillah proposal saya gol, dan setiap penjualan saya mendapat keuntungan Rp 15 juta,” ucapnya bangga.

Tapi, karena bisnis lampu ini musiman dan perputaran uangnya lambat, Elang mulai berfikir untuk mencari bisnis yang lain. Setelah melihat celah di bisnis minyak goreng, Elang mulai menekuni jualan minyak goreng ke warung-warung. Setiap pagi sebelum berangkat kuliah, ia harus membersihkan puluhan jerigen, kemudian diisi minyak goreng curah, dan dikirim ke warung-warung Pasar Anyar, serta Cimanggu, Bogor. Setelah selesai mengirim minyak goreng, ia kembali ke kampus untuk kuliah. Sepulang kuliah, Elang kembali mengambil jerigen-jerigen di warung untuk diisi kembali keesokan harinya. Tapi, karena bisnis minyak ini 80 persen menggunakan otot, sehingga mengganggu kuliahnya. Elang pun memutuskan untuk berhenti berjualan. “Saya sering ketiduran di kelas karena kecapain,” kisahnya.

Elang mengaku selama ini ia berbisnis lebih banyak menggunakan otot dari pada otak. Elang berkonsultasi ke beberapa para pengusaha dan dosennya untuk minta wejangan. Dari hasil konsultasi, Elang mendapat pencerahan bahwa berbisnis tidak harus selalu memakai otot, dan banyak peluang-peluang bisnis yang tidak menggunakan otot.

Setelah mendapat berbagai masukan, Elang mulai merintis bisnis Lembaga Bahasa Inggris di kampusnya. “Bisnis bahasa Inggris ini sangat prospektif apalagi di kampus, karena ke depan dunia semakin global dan mau tidak mau kita dituntut untuk bisa bahasa Inggris,” jelasnya. Adapun modalnya, ia patungan bersama kawan-kawannya. Sebenarnya ia bisa membiayai usaha itu sendiri, tapi karena pegalaman saat jualan minyak, ia memutuskan untuk mengajak teman-temannya. Karena lembaga kursusnyanya ditangani secara profesional dengan tenaga pengajar dari lulusan luar negeri, pihak Fakultas Ekonomi mempercayakan lembaganya itu menjadi mitra.

Karena dalam bisnis lembaga bahasa Inggris Elang tidak terlibat langsung dan hanya mengawasi saja, ia manfaatkan waktu luangnya untuk bekerja sebagai marketing perumahan. “Saya di marketing tidak mendapat gaji bulanan, saya hanya mendapatkan komisi setiap mendapat konsumen,” ujarnya.

Bangun Rumah Orang Miskin. Di usianya yang relatif muda, pemuda yang tak suka merokok ini sudah menuai berbagai keberhasilan. Dari hasil usahanya itu Elang sudah mempunyai rumah dan mobil sendiri. Namun di balik keberhasilannya itu, Elang merasa ada sesuatu yang kurang. Sejak saat itu ia mulai merenungi kondisinya. “Kenapa kondisi saya begini, padahal saya di IPB hanya tinggal satu setengah tahun lagi. Semuanya saya sudah punya, apalagi yang saya cari di dunia ini?” batinnya.

Setelah lama merenungi ketidaktenangannya itu, akhirnya Elang mendapatkan jawaban. Ternyata selama ini ia kurang bersyukur kepada Tuhan. Sejak saat itulah Elang mulai mensyukuri segala kenikmatan dan kemudahan yang diberikan oleh Tuhan. Karena bingung mau bisnis apalagi, akhirnya Elang shalat istikharah minta ditunjukkan jalan. “Setelah shalat istikharah, dalam tidur saya bermimpi melihat sebuah bangunan yang sangat megah dan indah di Manhattan City, lalu saya bertanya kepada orang, siapa sih yang membuat bangunan megah ini? Lalu orang itu menjawab, “Bukannya kamu yang membuat?” Setelah itu Elang terbangun dan merenungi maksud mimpi tersebut. “Saya pun kemudian memberanikan diri untuk masuk ke dunia properti,” ujarnya.

Pengalaman bekerja di marketing perumahan membuatnya mempunyai pengetahuan di dunia properti. Sejak mimpi itu ia mulai mencoba-coba ikut berbagai tender. Tender pertama yang ia menangi Rp 162 juta di Jakarta yaitu membangun sebuah Sekolah Dasar di daerah Jakarta Barat. Sukses menangani sekolah membuat Elang percaya diri untuk mengikuti tender-tender yang lebih besar. Sudah berbagai proyek perumahan ia bangun.

Selama ini bisnis properti kebanyakan ditujukan hanya untuk orang-orang kaya atau berduit saja. Sedangkan perumahan yang sederhana dan murah yang terjangkau untuk orang miskin jarang sekali pengembang yang peduli. Padahal di Indonesia ada 70 juta rakyat yang masih belum memiliki rumah. Apalagi rumah juga merupakan kebutuhan yang sangat primer. Sebagai tempat berteduh dan membangun keluarga. “Banyak orang di Indonesia terutama yang tinggal di kota belum punya rumah, padahal mereka sudah berumur 60 tahun, biasanya kendala mereka karena DP yang kemahalan, cicilan kemahalan, jadi sampai sekarang mereka belum berani untuk memiliki rumah,” jelasnya.

Dalam hidupnya, Elang ingin memiliki keseimbangan dalam hidup. Bagi Elang, kalau mau kenal orang maka kenalilah 10 orang terkaya di Indonesia dan juga kenal 10 orang termiskin di Indonesia. Dengan kenal 10 orang termiskin dan terkaya, akan mempunyai keseimbangan dalam hidup, dan pasti akan melakukan sesuatu untuk mereka. Melihat realitas sosial seperti itu, Elang terdorong untuk mendirikan perumahan khusus untuk orang-orang ekonomi ke bawah. Maka ketika ada peluang mengakuisisi satu tanah di desa Cinangka kecamatan Ciampea, Elang langsung mengambil peluang itu. Tapi, karena Elang tidak punya banyak modal, ia mengajak teman-temannya yang berjumlah 5 orang untuk patungan. Dengan modal patungan Rp 340 juta, pada tahun 2007 Elang mulai membangun rumah sehat sederhana (RSS) yang difokuskan untuk si miskin berpenghasilan rendah. Dari penjualan rumah yang sedikit demi sedikit itu. Modalnya Elang putar kembali untuk membebaskan lahan di sekitarnya. Rumah bercat kuning pun satu demi satu mulai berdiri.

Elang membangun rumah dengan berbagai tipe, ada tipe 22/60 dan juga tipe 36/72. Rumah-rumah yang berdiri di atas lahan 60 meter persegi tersebut ditawarkan hanya seharga Rp 25 juta dan Rp 37 juta per unitnya. “Jadi, hanya dengan DP Rp 1,25 juta dan cicilan Rp 90.000 ribu per bulan selama 15 tahun, mereka sudah bisa memiliki rumah,” ungkapnya.

Karena modalnya pas-pasan, untuk media promosinya sendiri, Elang hanya mengiklankan di koran lokal. Karena harganya yang relatif murah, pada tahap awal pembangunan langsung terjual habis. Meski harganya murah, tapi fasilitas pendukung di dalamnya sangat komplit, seperti Klinik 24 jam, angkot 24 jam, rumah ibadah, sekolah, lapangan olah raga, dan juga dekat dengan pasar. Karena rumah itu diperuntukkan bagi kalangan ekonomi bawah, kebanyakan para profesi konsumennya adalah buruh pabrik, staf tata usaha (TU) IPB, bahkan ada juga para pemulung.

Sisihkan 10 Persen. Dengan berbagai kesuksesan di usia muda itu, Elang tidak lupa diri dengan hidup bermewah-mewahan, justru Elang semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Salah satu wujud rasa syukur atas nikmatnya itu, dalam setiap proyeknya, ia selalu menyisihkan 10 persen untuk kegiatan amal. “Uang yang 10 persen itu saya masukkan ke BMT (Baitul Mal Wa Tanwil/tabungan) pribadi, dan saya alokasikan untuk membantu orang-orang miskin dan orang yang kurang modal,” bebernya. Bagi Elang, materi yang saat ini ia miliki ada hak orang miskin di dalamnya yang musti dibagi. Selain menyisihkan 10 persen dari hasil proyeknya, Elang juga memberikan sedekah mingguan, bulanan, dan bahkan tahunan kepada fakir miskin.

Bagi Elang, sedekah itu tidak perlu banyak tapi yang paling penting adalah kontinuitas dari sedekah tersebut. Meski jumlahnya kecil, tapi jika dilakukan secara rutin, itu lebih baik daripada banyak tapi tidak rutin.

Elang sendiri terbilang sebagai salah satu sosok pengusaha muda yang sukses dalam merintis bisnis di tanah air. Prestasinya patut diapresiasi dan dijadikan suri tauladan bagi anak-anak muda yang lain. Bagi Elang, semua anak muda Indonesia bisa menjadi orang yang sukses, karena kelebihan manusia dengan ciptaan mahkluk Tuhan yang lain adalah karena manusia diberi akal. Dan, ketika manusia lahir ke dunia dan sudah bisa mulai berfikir, manusia itu seharusnya sudah bisa mengarahkan hidupnya mau dibawa kemana. “Kita hidup ibarat diberi diary kosong. Lalu, tergantung kitanya mau mengisi catatan hidup ini. Mau hura-hurakah? Atau mau mengisi hidup ini dengan sesuatu yang bermanfaat bagi yang lain,” ucapnya berfilosof. Ketika seseorang sudah bisa menetapkan arah hidupnya mau dibawa kemana, tinggal orang itu mencari kunci-kunci kesuksesannya, seperti ilmu dan lain sebagainya.

Menjaga Masjid. Adapun kunci kesuksesan Elang sendiri berawal dari perubahan gaya hidupnya saat kuliah semester lima. Pada siang hari, Elang bak singa padang pasir. Selain kuliah, ia juga menjalankan bisnis mencari peluang-peluang bisnis baru, negosiasi, melobi, dan sebagainya. Namun ketika malam tiba, ia harus menjadi pelayan Tuhan, dengan menjadi penjaga Masjid. “Setiap malam dari semester lima sampai sekarang saya tinggal di Masjid yang berada dekat terminal Bogor. Dari mulai membersihkan Masjid, sampai mengunci, dan membukakan pintu pagar untuk orang-orang yang akan shalat subuh, semua saya lakukan,” ujarnya merendah.

Elang mengaku ketika menjadi penjaga Masjid ia mendapat kekuatan pemikiran yang luar biasa. Bagi Elang, Masjid selain sebagai sarana ibadah, juga tempat yang sangat mustajab untuk merenung dan memasang strategi. “Dalam halaman masjid itu juga ada pohon pisang dan di sampingnya gundukan tanah. Saya anggap itu adalah kuburan saya. Ketika saya punya masalah saya merenung kembali dan kata Nabi, orang yang paling cerdas adalah orang yang mengingat mati,” ujarnya.

Ikut Lomba Wirausaha Muda Mandiri Karena Tukang Koran “Ghaib” Elang semakin dikenal khalayak luas ketika berhasil menjadi juara pertama di ajang lomba wirausaha muda mandiri yang diadakan oleh sebuah bank belum lama ini. Keikutsertaan Elang dalam lomba tersebut sebenarnya berkat informasi dari koran yang ia dapatkan lewat tukang koran “ghaib”. Kenapa “ghaib”?, sebab setelah memberi koran, tukang koran itu tidak pernah kembali lagi padahal sebelumnya ia berjanji untuk kembali lagi.

Peristiwa aneh itu terjadi saat ia sedang mencuci mobil di depan rumahnya. Tiba-tiba saja ada tukang koran yang menawarkan koran. Karena sudah langganan koran, Elang pun menolak tawaran tukang koran itu dengan mengatakan kalau ia sudah berlangganan koran. Tapi anehnya musti sudah mengatakan demikian, si tukang koran itu tetap memaksa untuk membelinya, karena elang tidak mau akhirnya si tukang koran itu memberikan dengan cuma-cuma kepada elang dan berjanji akan kembali lagi keesokan harinya. Karena diberi secara cuma-cuma, akhirnya Elang pun mau menerimanya.

Setelah selesai mencuci mobil, Elang langsung menyambar koran pemberian tukang koran tadi. Setelah membaca beberapa lembar, Elang menemukan satu pengumuman lomba wirausaha muda mandiri. Merasa sebagai anak muda, ia tertantang untuk mengikuti lomba tersebut. Elang pun membawa misi bahwa wirausaha bukan teori melainkan ilmu aplikatif. Saat lolos penjaringan dan dikumpulkan di Hotel Nikko Jakarta, Elang bertemu dengan seorang Bapak yang anaknya sedang sakit keras di pinggir jalan bundaran Hotel Indonesia. Elang merasa ada dua dunia yang sangat kontras, di satu sisi ada orang tinggal di hotel mewah dan makan di restoran, tapi di sisi lain ada orang yang tinggal di jalanan. Akhirnya, pada malam penganugerahan, tim juri memutuskan Elanglah yang menjadi juaranya. Padahal kalau diukur secara omset,
pendapatannya berbeda jauh dengan para pengusaha lainnya.

Dari Juara I Wirausaha itu, Elang membawa hadiah sebesar Rp 20 juta, ditambah tawaran kuliah S2 di Universitas Indonesia. Melalui lomba itu, terbukalah jalan cerah bagi Elang untuk menapaki dunia wirausaha yang lebih luas.

Ingin Membawahi Perusahaan yang Mempekerjakan 100 Ribu Orang

Perjalanan Elang dalam merintis bisnis properti, tidak selamanya berjalan \mulus. Pada awal-awal merintis bisnis ini, ia banyak sekali mengalami hambatan, terutama ketika akan meminjam modal dari Bank. Sebagai mahasiswa biasa, tentunya perbankan merasa enggan untuk memberikan modal. Padahal, prospek bisnis properti sangat jelas karena setiap orang pasti membutuhkan rumah. “Beginilah jadi nasib orang muda, susah orang percaya. Apalagi perbankan. Orang bank bilang lebih baik memberikan ke tukang gorengan daripada ke mahasiswa,” ungkapnya.

Meski sering ditolak bank pada awal-awal usahanya, Elang tidak pernah patah semangat untuk berbisnis. Baginya, kalau bank tidak mau memberi pinjaman, masih banyak orang yang percaya dengan anak muda yang mau memberi pinjaman. Terbukti dengan hasil jerih payahnya selama ini sehingga bisa berjalan.

Ada banyak impian yang ingin diraih Elang, di antaranya membentuk organisasi Maestro Muda Indonesia dan membawahi perusahaan yang mempekerjakan karyawan
100 ribu orang. Motivasi terbesar Elang dalam meraih impian tersebut adalah ingin menjadi tauladan bagi generasi muda, membantu masyarakat sekitar, dan meraih kemuliaan dunia serta akhirat.

sumber:http://greensand.wordpress.com/2008/06/17/belajar-dari-elang-gumilang-mahasiswa-beromzet-17-milyar/

Posted by: arniz | May 11, 2009

Amit MEHTA – THE SUPERAFFILIATE

Back in 2005 when I was a graduate student, I became fascinated with the internet economy and began reading every book I could get my hands on regarding the subject. I was inspired to start an internet business of my own.

I discovered that setting up a website and promoting affiliate products was the fastest way to get started with an internet business. I began researching and reading ebooks on the subject to learn as much as I could about it (starting in March 2005).

Over the months, I had little to no success; however, I was determined to succeed. You see, I hated my job at a famous government research lab. I wanted to be desperately free from my job and live the incredible lifestyle so many of the internet marketing ‘gurus’ talk about.

In September 2005, I stumbled upon Google Adwords and PPC Marketing in general. I began to devour every book regarding PPC Affiliate Marketing. Within 4 months, I was able to grow my online business, managing to make $10,000 in profits for the month of December 2005.

On June 15, 2006 I walked away from a $90,000/yr job and entered the “land of the living”, never to work a “day job” again.

Fast forward to April 2007. I’m currently building several companies around the affiliate marketing business model and my business profits are currently $90,000/month… and increasing rapidly.

Performance Marketing Worldwide

Performance Marketing Worldwide (PMW) is an affiliate marketing company whose target is to systematize the creation, and execution of PPC Affiliate Marketing campaigns. The goal of PMW is two-fold:

1) To become a dominate player in the affiliate marketing space; and
2) To improve the reputation of the affiliate marketing industry.

I would like to personally thank everyone for visiting Super Affiliate Mindset and it is my hope that I can help as many people as possible acheive their goals in this exciting profession🙂

Best Regards,
Amit Mehta

sumber : http://superaffiliatemindset.com/about/

Posted by: arniz | April 15, 2009

Innovative Entrepreneurship Challenge 4 [IEC4] ITB

The Fresh Inspiration for today :

Lomba bisnis mahasiswa tingkat nasional dengan total hadiah Rp60.000.000,00
Pendaftaran akan ditutup tanggal 7 Mei 2009. download formulir pendaftaran, dll di http://iecitb.com

IEC 4 (Innovative Enterpreneurship Challenge 4) adalah sebuah kegiatan kemahasiswaan yang bertujuan untuk menumbuhkan dan memfasilitasi mahasiswa dalam berwirausaha. IEC 4 merupakan kelanjutan dari kegiatan IEC sebelumnya yang mengusung tema Inovasi dalam berbisnis. Acara utama dari IEC 4 adalah lomba inovasi bisnis tingkat nasional. Selain lomba, IEC 4 juga mengadakan workshop, seminar dan training untuk dengan tujuan melahirkan entrepreneur dari kalangan mahasiswa.

Tujuan:
a. Membangkitkan motivasi entrepreneurship (berwirausaha) bagi mahasiswa Indonesia.
b. Memfasilitasi pengembangan ide-ide bisnis inovatif mahasiswa untuk dapat direalisasikan.
c Mencetak entrepreneur-entrepreneur muda dari kalangan mahasiswa yang akan berkontribusi dalam perkembangan perekonomian Indonesia.

A.Ketentuan Umum Kepesertaan :
1.Peserta masih duduk dibangku perkuliahan baik jurusan D1, D2,D3, atau S1 Perguruan Tinggi Di Indonesia pada tanggal 26 Juli 2009 .(dibuktikan dengan kartu mahasiswa dan surat keterangan dari pihak Perguruan Tinggi).
2.Setiap Tim membayar Investasi sebesar Rp.150.000,00
3.Peserta bukan termasuk 10 besar IEC sebelumnya.
4.Setiap tim maksimal terdiri dari 5 peserta.
5.Peserta boleh gabungan dari berbagai perguruan tinggi.
6.Proposal yang diperlombakan belum pernah keluar menjadi pemenang dalam kompetisi serupa di tingkat nasional.
7.Proposal yang dilombakan adalah karya original dari peserta, bukan merupakan plagiatisme dari businnes plan yang telah ada.
B.Pendaftaran Peserta
Pendaftaran peserta dapat dilakukan dengan cara mengirimkan formulir pendaftaran yang ada di tempat-tempat pendaftaran atau download di http://www.iecitb.com dan menyertakan aplikasi yang akan diperlombakan. Pendaftaran akan ditutup pada tanggal 7 Mei 2009.

Formulir pendaftaran dan keterangan lengkap mengenai lomba dapat diperoleh dengan Download dari download page

Selanjutnya peserta dapat mengirimkan aplikasi pendaftaran berisi :
1.Formulir pendaftaran yang sudah diisi lengkap
2.Bukti transfer investasi(hasil scan)
3.KTM (Scan) masing-masing anggota.
4.Pendaftaran melalui email ini dengan subject : [LOMBA]
5.Softcopy Proposal, dalam format doc dan pdf yang telah di zip (dapat menyusul)
6.Untuk mengirimkan proposal dengan subject : [LOMBA_PROPOSAL]
Kemudian semua data tersebut dikirimkan melalui
email : iecitblomba@yahoo.com

Adapun data yang harus dikirimkan langsung ke sekretariatan panitia INNOVATIVE ENTREPRENEURSHIP CHALLENGE 4
LAMPIRAN FORMULIR YANG DIKIRIMKAN
1.Surat Keterangan dari pihak kampus bahwa ia masih merupakan mahasiswa di kampus yang bersangkutan.
2.Fotokopi Kartu Tanda Mahasiswa.
3.Foto 3×4 2 lembar terbaru dan berwarna
4.Proposal yang telah di cetak (Hardcopy) sebanyak 1 eksemplar.
5.Mengirimkan bukti pembayaran dari bank (bukan fotokopian).
6.Lampiran (Sertifikat, dll. Untuk keterangan di CV).
Formulir dan lampiran formulir dikirimkan dalam amplop tertutup warna coklat (ukuran folio) bertuliskan “INNOVATIVE ENTREPRENEURSHIP CHALLENGE 4” dan dikirimkan ke :

Panitia Innovative Entrepreneurship Challenge 4
Ruang 27 Campus Center Barat
Jalan Ganesha 10
Kampus ITB, Bandung 40312
HP : +62813 6902 5855 (Pandu)
Email : iecitblomba@yahoo.com

No. Rekening
1300009734974
a.n. Anggi Puspita Swardhani
Bank Mandiri Kcp Siliwangi Bandung

Paling lambat tanggal 7 Mei 2009.

C.Proses Penilaian
Penilaian dalam IEC 4 melibatkan seleksi awal oleh Tim Seleksi dan penjurian Inovasi dan ide bisnis itu sendiri. Seleksi awal berupa kelengkapan administrasi. Kemudianberkas proposal itu akan diperiksa oleh tim juri inovasi dan tim juri utama. Yang kemudian keputusan akhir akan diambil oleh tim juri utama.
D.Pengembalian Aplikasi
Pengembalian aplikasi selambat-lambatnya tanggal 7 Mei 2009 ke alamat :
Panitia Innovative Entrepreneurship Challenge 4
Ruang 27 Campus Center Barat
Jalan Ganesha 10
Kampus ITB, Bandung 40312
HP : +62813 6902 5855 (Pandu)
Email : iecitblomba@yahoo.com
E.Penghargaan bagi Pemenang
Juara Pertama : Rp 30.000.000,00
Juara Kedua : Rp 20.000.000,00
Juara ketiga : Rp 10.000.000,00
F.Kerahasiaan dan Disclaimer
1.Segala informasi mengenai usaha yang diberikan menjadi hak panitia dan tidak dapat ditarik kembali.
2.Panitia dan Dewan Juri menjamin kerahasiaan informasi yang diberikan dan hanya akan digunakan untuk kepentingan penilaian IEC 4
3.Apabila informasi akan dipublikasikan diluar kepentingan penilaian IEC 4, panitia akan meminta izin tertulis terlebih dahulu dari peserta pemilik informasi tersebut.
4.Panitia dan Dewan Juri Innovative Entrepreneurship Challenge 4 tidak bertanggung jawab atas kebenaran, validitas, dan akurasi informasi usaha yang diberikan serta dibebaskan sepenuhnya dari segala konsekuensi yang timbul atas ketidakbenaran informasi yang ada.
5.Peserta/ pemberi informasi bertanggung jawab sepenuhnya atas kebenaran, validitas, dan akurasi informasi usaha yang diberikan.
CP:Pandu +62813 6902 5855
e-mail:iecitblomba@yahoo.com
Mirrah +62811 9447 1932
Jason +62812 287 1004

info selengkapnya kunjungi : http://iecitb.com

This is fresh inspiration about the greatest marketer….lets read it!!!

The Greatest Marketing Secret of All Time

by Michel Fortin

If there is something about which I am pretty adamant, it’s the concept of attracting clients that are pre-qualified and willing to do business. And this involves many different things, but most of it comes down to three core practices: 1) Focus, 2) targeting, and 3) multiplication (such as focusing on a niche, market targeting, and multiplying one’s marketing efforts).

However, this fundamental magnetism is not only based on pure marketing practices or strategies. It also involves something at a much deeper level that is far more effective than any other marketing tool or process. This “thing” to which I am referring is, I believe, the most important marketing secret that I can ever teach you — and it’s far from being a secret at all.

But it is considered as one to a certain degree simply because it is often neglected or ignored by many businesspeople. What is this elusive secret? Before I divulge it to you, let me give you a little preamble. First, I must admit that it upsets me terribly to see when people tend to scoff their most valuable marketing assets. No, I’m not referring to salespeople or promotional activities. I’m not referring to prospects or clients either. I’m referring to dreams and passions.

“Marketing is not a battle of products, but of perceptions,” marketing expert Jack Trout once wrote. If people perceive that doing business with you has an implicit added value, especially when compared to your competitors that are fiercely fighting for your market’s attention, you will often end up with their confidence (and their repeat and referral business) as a result.

Of course, there are numerous ways that value can be added to your business — e.g. by specializing, by packaging (naming) your products and services, by presenting benefits rather than features, by delivering personalized services, by presenting a professional image, by offering something for free, and so on. But the most effective way to communicate this added value is through the genuine, sincere, and passionate zest you have for what you do.

People have a tendency to gravitate toward other people who love what they do — their enthusiasm, charisma, and authentic desire to serve others are instantly communicated through their actions and particularly their marketing efforts. Sadly, however, the marketplace is filled with so many people who jump into business for one sole purpose: Money.

They work for a pension instead of a passion. They are so profit-minded that they fail to enjoy the process. The great anthropologist, Joseph Campbell, said it best when he said that old clichT: “Follow your bliss.” Actually, the Chinese sage Confucius, in 500 B.C., said: “Do what you love and you’ll never have to work a day in your life.” Author Marsha Sinetar wrote a book, entitled: “Do what you love and the money will follow.” Peter McWilliams, author of “Life 101,” claimed: “Do what you love and the necessary resources will follow.”

Now, it’s my turn. I say…

“Do what you love and the business will follow.”

Well folks, there you have it. That’s the greatest marketing secret of all time. It’s to do what you love or to love what you do. And if you don’t love what you do, then find it. As Jim Rohn once said, “If you don’t like where you are, then change it! You’re not a tree.”

Doing what one loves is a fundamental marketing process. For example, when you deal with two people competing for your business, and if one of them has the “fire burning in their belly” (a genuine passion for what that person does), then how much more willing will you be to do business with that person than the other? How much more believable and credible will that person be compared to the other? And most important, how much more value will that person bring to the table than the other? The answer is pretty obvious. Enough said.

People who love what they do generate far more word-of-mouth advertising. In subtle ways, they communicate that they are experts, that they are interested more in your needs than your money, and that they will go out of their way to please you. And they certainly develop far more enriching and superior customer relationships — let alone referral-sources.

Entrepreneurialism has increased in fervor these days, and that’s good. But as a result, the hypercompetitive nature of the marketplace will in turn increase the demand for more uniqueness, more competitive value, and greater customer service. However, if you love what you do, your passion will intrinsically communicate all of those things combined.

Just as people choose to work in jobs they hate, many will choose a business or an endeavor that gives them absolutely no sense of purpose. They attempt to earn a living and do so with retirement in mind (or the thought of financial independence), anxiously awaiting those golden years when they will finally start to enjoy their lives. (The funny part is that the future is guaranteed to no one. So, the key is to enjoy it now — later may never come.)

Needless to say, if you do what you love (or focus on a business you enjoy instead of the money you want to earn from it), you will not only make money as a natural byproduct but also enjoy much happiness, satisfaction, joy, inner peace, and of all things, security.

How many millionaires out there have reached phenomenal levels of success but failed in other areas? According to Bob Proctor in his book “Born to be Rich,” the list is endless. To make it short, he mentions numerous wealthy and famous Wall Street magnates in the past century alone that have ended up going insane, getting divorced (multiple times), going broke, suffering from heart attacks, committing murder, or even killing themselves.

Ultimately, if you do what you love or love what you do, you will naturally attract more business by the sheer fact that your passion is also communicating to others that you are offering the best solution to their problems. Why? You are offering them the best… YOU.

About the Author
Michel Fortin is a consultant dedicated to helping businesses turn into powerful magnets. Visit http://SuccessDoctor.com to receive a free copy of his book, “The 10 Commandments of Power Positioning.” He is also the editor of the “Internet Marketing Chronicles” ezine delivered weekly to 90,000 subscribers — subscribe free at http://SuccessDoctor.com/IMC/.

sumber : http://www.4hb.com/0107sdgreatestmarksecret.html

Older Posts »

Categories